Wacana Dibukanya Telegram Setelah Berunding dengan Kemenkominfo

Telegram Bakal Dibuka Kembali – Kementrian Komunikasi dan Informatika memiliki wacana untuk kembali membuka layanan web aplikasi Telegram yang sudah diblokir pada beberapa waktu yang lalu. Terkait dengan kapan dibukanya kembali layanan tersebut, Kemenkominfo saat ini masih menunggu hasil perundingan terkait standard operating procedure (SOP) dengan perusahaan Telegram.

Telegram Bakal Dibuka Kembali

Menmkominfo Rudiantara, mengatakan bahwa tidak ada alasan Telegram untuk tidak dibuka jika SOP-nya memang sudah beres. Bahkan, masyarakat pun tentu menginginkan dibukanya kembali aplikasi tersebut.

Untuk saat ini, Kemenkominfo sedang menjalin komunikasi dengan pihak Telegram dan kedua belah pihak telah menyepakati beberapa poin yang telah direncanakan.

Pertama, pihak Telegram akan mengirimkan sumber dayanya ke Indonesia agar lebih mudah dalam berkoordinasi dengan pemerintah Indonesia jika sewaktu-waktu terjadi masalah. Dengan adanya kontak person, alamat, dan nomor telepon dari perwakilan Telegram tentu koordinasi akan lebih mudah terjalin.

Poin kedua, pihak Telegram akan memakai self censoring untuk menyikapi konten yang berhubungan dengan radikalisme maupun terorisme. Dengan teknik ini, nantinya akan perusahaan platform akan menerima peringatan yang langsung bisa diteruskan ke pemerintah Indonesia.

“Kalau ada konten berkaitan dengan radikalisme, dia langsung memberikan warning atau memblokir. Kalau masih ada juga yang lolos, kan jalur komunikasi sudah ada. Tinggal bilang saja, eh bos ada kayak begini, tolong take down. Demi kepentingan Indonesia ya, ” jelas Rudiantara, KompasTekno, Jumat (28/07/2017).

Terkait dengan kapan perundingan antara Kemenkominfo dan Telegram itu selesai, Rudiantara masih belum bisa memastikannya. Namun yang pasti komunikasi antara keduanya harus dilakukan dengan hati-hati.

Sebelumnya, pemerintah melalui Kemenkominfo mengumumkan telah melalukan pemblokiran pada layanan web aplikasi Telegram di Indonesia. Akan tetapi, pemblokiran ini baru dilakukan untuk layanan web saja, yaitu sejumlah URL yang dipakai untuk membuka Telegram dengan menggunakan browser dekstop ataupun mobile.

Walaupun langkah ini sempat diprotes banyak orang, namun pemerintah tetap gigih memblokir aplikasi tersebut. Alasan pemerintah adalah karena layanan ini digunakan untuk menyebarkan ajaran-ajaran terorisme dan radikalisme seperti cara untuk merakit bom, melakukan penyerangan, disturbing images, serta informasi lain yang tidak sesuai dengan undang-undang di Indonesia.

Presiden Joko Widodo bahkan ikut menjelaskan mengapa layanan pesan instan yang menjadi rival WhatsApp ini memang layak untuk dihentikan pemakaiannya. Jokowi menuturkan jika aplikasi Telegram memang sudah lama dipantau oleh pemenrintah sebelum akhirnya diblokir.

Hasil pantauan yang dilakukan pemerintah menemukan bahwa Telegram sering dipakai berkomunikasi oleh teroris. Terdapat ribuan konten di aplikasi tersebut yang dikatakan bisa mengganggu keamanan negara.

 

Top