Wow! Smartphone Oppo “Zoom 5x” Diuji Banting 40.000 Kali

Diuji Banting 40.000 Kali 5x Lossles Zoom Tetap Hidup – Pada acara gelaran Mobile World Congress (MWC) 2016 lalu, Oppo memperkenalkan teknologi pengisian daya super cepat bertajuk Super VOOC dan stabilisator kamera berbasis sensor yang dinamai SmartSensor. Setelah setahun berlalu kedua teknologi tersebut masih belum juga direalisasikan pada smartphone. Tahun ini Oppo kembali memilih merilis teknologi ketimbang produk.

Disebut dengan 5x Dual Camera Zoom atau disebut juga dengan 5x Lossless Zoom, teknologi tersebut memungkinkan kamera ponsel melakukan zoom sampai lima kali tanpa terjadi pengurangan kualitas foto. Lagi-lagi Oppo tidak bisa menjanjikan kapan teknologi itu dikomersilkan dalam bentuk produk. Menurut Director of Hardware Oppo, King Bai, pihaknya tak mau terburu-buru karena setiap teknologi harus melewati rentetan pengujian agar benar-benar bisa memuaskan pengguna.

“Kami punya standar pengujian yang berbeda-beda untuk tiap teknologi, Di 5x Lossless Zoom ini uji ketahanan sudah dilakukan dengan drop test dari ketinggian 1,5 meter. Itu diulang sampai 40.000 kali,” ujar King Bai dalam sesi wawancara bersama KompasTekno, Senin (27/2/2017) di area MWC, Barcelona, Spanyol.

separator

Drop test ini hanyalah salah satu jenis pengujian yang diberikan pada 5x Lossless Zoom. Masih ada beberapa pengujian lain yang harus dilewati teknologi kamera tersebut sebelum diyakini layak untuk diproduksi massal. Untuk teknologi kamera harus ada pengujian resolusinya juga. Sinkronisasi modul kamera dengan platform perlu juga agar fungsinya berjalan dengan baik.

Pernyataan ini seakan memberikan sinyal bahwa teknologi 5x Lossless Zoom masih harus menempuh perjalanan panjang untuk sampai ketangan pengguna. Jangankan perilisannya, penggodokan konsep 5x Lossless Zoom sendiri terhitung lama sebelum benar-benar dikembangkan. Mekanisme periskop pada 5x Lossless Zoom sebenarnya sudah terpikirkan sejak 3 tahun lalu.

King Bai sesumbar prinsip utama Oppo adalah kualitas dan kepuasan pengguna. Ia tak mau bergegas merealisasikan produk jika belum 100 persen siap, baik dari segi kematangan teknologi maupun kesiapan pasar.

Top