Blokir Jurnalis Palestina, Facebook Minta Maaf

Facebook mengaku keliru memblokir akun jurnalis Palestina – Akun Facebook jurnalis dari dua media Palestina diblokir tanpa sebab sejak pekan lalu. Kedua media itu berbasis di Tepi Barat dan memuat berita harian soal wilayah okupasi Palestina. Kedua laman media di Facebook masih bisa diakses. Shebab memiliki 6,3 juta likes dan Quds memiliki 5,1 juta. Facebook mengaku telah keliru memblokir akun pribadi milik tujuh orang jurnalis yang bekerja untuk media Palestina.

facebook mengaku keliru memblokir akun jurnalis palestina

Perusahaan yang didirikan oleh Mark Zuckerberg itu mengatakan pemblokiran terjadi karena Facebook mendapatkan laporan adanya pelanggaran aturan pemakaian Facebook. Kendati demikian para jurnalis yang diblokir menduga hal tersebut dilakukan Facebook karena alasan lain. Pasalnya Israel tengah gencar membasmi berbagai hal yang dianggap hasutan online dan dirasa bakal memicu tindak kekerasan.

Jurnalis yang diblokir terdiri dari empat orang editor Shebab New Agency dan tiga eksekutif Quad News Network. Kantor berita tersebut sama-sama meliput berita di wilayah Palestina yang diduduki Israel. Namun saat ini akun milik para jurnalis sudah bisa di akses kembali. sementara Facebook menganggap pemblokiran terjadi karena suatu kesalahan pada sistem pelaporan.

“Halaman tersebut terhapus karena kekeliruan dan langsung dipulihkan kembali setelah kami melakukan investigasi. Tim kami memproses jutaan laporan tiap pekan, dan kadang ada saja kekeliruan. Kami minta maaf soal kejadian ini,” ujar juru bicara Facebook.

Pemerintah Israel menganggap bahwa selama ini ada hasutan yang disebarkan secara online dan memicu terjadinya gelombang serangan di jalanan Palestina. Atas dugaan itu pemerintah Israel meminta Facebook memperbaiki kebijakan di platform nya. Kementrian kehakiman Israel pun mendorong pembuatan peraturan yang bakal memaksa Facebook, Twitter, dan berbagai layanan internet lain untuk menghapus konten yang berpotensi memicu terorisme.

Tetapi disisi lain penduduk Palestina balik mengkritik tindakan Israel yang berusaha menyensor media sosial, dengan alasan tindakan kekerasan yang dituding pemerintah itu bukan disebabkan hasutan online, melainkan karena penjajahan militer yang sudah berlangsung hampir 50 tahun.

 

Top