Uber Rugi Sampai Rp16,8 Triliun, Mengapa?

Tanggung Subsidi Pengemudi, Uber Rugi Besar – Kabar terbaru hadir dari layanan transportasi umum berbasis aplikasi, Uber baru saja menanggung kerugian yang cukup besar. Dari kabar yang terdengar, kerugian yang diderita Uber mencapai angka sebesar 1,27 miliar dollar AS atau sekitar Rp16,8 triliun pada semester awal tahun 2016 ini.

tanggung subsidi pengemudi uber rugi besar

Rupanya Uber telah emngalami kerugian selama enam bulan. Berdasarkan informasi Bloomberg yang dilansir dari halaman KompasTekno, Senin (29/08/2016) tertulis bahwa Uber merugi sekitar 520 juta dollar AS di kuartal pertama tahun 2016, kemudian di kuartal kedua malah kerugian meningkat sebanyak 750 juta dollar AS.

Menurut informasi yang diperoleh dari paparan Kepala Keuangan Uber, Gautam Gupta, dikatakan bahwa kerugian secara global mayoritas disebabkan oleh subsidi yang harus dibayarkan kepada pengemudi. Namun, pihak Uber sendiri masih enggan berkomentar apapun.

Jika diperhatikan, Uber saat ini memang hanya meraih presentase kecil jika hanya melihat pendapatan pengemudi. Meskipun baru-baru ini dikabarkan bahwa Uber mulai mengambil presentase lebih besar ataupun mengurangi subsidi untuk pengemudia.

Sebetulnya, kerugian besar yang diperoleh perusahaan ride sharing adalah hal yang biasa terjadi. Kondisi seperti ini bukan hanya terjadi pada Uber. Banyak layanan transportasi berbasis aplikasi yang saat ini juga masih habis-habisan mengucurkan dana demi menjalin kemitraan dan menarik pengguna sebanyak mungkin. Jadi, untuk kerugian semacam itu adalah hal yang umum, perusahaan harus berkorban dahulu untuk mencapai tujuannya.

Seperti diketahui, pada kuartal pertama ke kuartal kedua tahun 2016 layanan transportasi Uber tumbuh secara besar-besaran. Saat itu, pertumbuhannya dari sekitar 3,8 miliar dollar AS menjadi lebih dari 5 miliar dollar AS. Sementara itu, untuk pendapatan bersih meningkat sebanyak 18 persen dari yang sebelumnya 960 juta dollar AS menjadi 1,1 miliar dollar AS di kuartal kedua 2016.

Upaya Uber untuk meningkatkan pasar secara signifikan, jika ditotal selama 7 tahun berdiri maka kerugian yang ditanggung adalah sebesar 4 miliar dollar AS. Contohnya saja pada tahun 2015 lalu Uber mengalami kerugian sekitar 2 miliar dollar AS belum ditambah bunga, pajak, depresiasi dan amortisasi.

Bahkan, dalam keterangannya, Joe Grundfest mengatakan seperti yang dikutip dari sumber yang sama, “Sangat jarang bagi perusahaan untuk kehilangan uang dalam jumlah besar sejalan dengan upaya mereka untuk membangun pasar secara signifikan dan bersaing merebut pangsa pasar. Tantangan yang menarik adalah mengubah kerugian menjadi untung dan dengan arus kas yang poisitif,” ungkap profesor hukum dan bisnisa dari Stanford University itu. Baca juga XC90, Mobil Pintar Uber-Volvo Segera Dilepas ke Jalanan dan Uber Siapakan Maps Sendiri

Top