Qualcomm Dipermasalahkan Di Korsel

Qualcomm Dituduh Bermain Tak Sehat – Dominasi Korea Selatan pada pasaran telepon pintar nyatanya memang tak akan lepas dari isu-isu hukum yang beredar pada negaranya sendiri. Pasalnya, semakin tinggi tingkat bisnis, tentunya risiko terhadap hukum juga akan berbanding lurus dengannya. Itulah sebabnya, bagi pemain-pemain bisnis tingkat internasional membutuhkan pakar-pakar hukum yang tak main-main karena menyangkut nilai bisnis setinggi langit.

qualcomm dipermasalahkan di korsel

Kali ini berita muncul dari sengketa antara swasta dan negara. Dikabarkan dari Okezone (19/7/2016), Qualcomm sedang menjalani proses gugatan oleh Korea Selatan melalui Komisi Persaingan Usahanya (FTC). Nilai gugatan itu tak main-main yakni denda sebesar 1 triliun Won atau jika dikonversikan dalam mata uang Indonesia senilai dengan 11 triliun Rupiah. Tentu angka tersebut bukan angka yang kecil walaupun untuk perusahaan sekelas Qualcomm.

Masih diberitakan dari sumber yang sama, Qualcomm sendiri dituduh melanggar prinsip persaingan sehat dengan menarik biaya royalti sangat tinggi kepada para kliennya. Tentunya, klien yang dimaksud pada kasus ini tak lain merupakan vendor lokal asli Korea. Pada praktiknya, Qualcomm dituduh menraik biaya royalti dengan persenan harga telepon pintar yang dijual oleh vendor kliennya tersebut.

FTC menyatakan, seharusnya Qualcomm menarik harga berdasarkan chipset yang digunakan dan bukan menarik berdasarkan harga ponsel berkaitan. Selain itu, Qualcomm juga dituduh menerapkan peraturan ketat untuk vendor yang menggunakan produknya. Hal ini tentunya sangat berdampak dengan kegiatan bisnis vendor asli Korea Selatan.

Pasalnya, dengan aturan yang dipaksa oleh Qualcomm tersebut, pihaknya akan mendapatkan keuntungan lebih bukan berdasarkan chip yang dijualnya melainkan berdasarkan banderol telepon pintar yang menggunakan chipsetnya. Jika dilihat, kurang lebih Qualcomm sednag berusaha melakukan sharing keuntungan terhadap produk telepon pintar yang menggunakan chipsetnya. Padahal di sisi lain, Qualcomm memiliki bisnis tersendiri yakni penjualan chipset tersebut saja dan bukan keseluruhan telepon pintar yang menggunakna produknya.

Dari hasil praktik tersebut, Qualcomm disebut telah mendapatkan keuntungan sebesar USD1,2 miliar. Keuntungan tersebut tentunya didapatkan dari perusahaan macam Samsung, LG, dan lainnya yang terbiasa menggunakan chipset ini untuk berbagai produknya. Menariknya, kejadian ini kurnag lebih juga terjadi pada Qualcomm di China dengan nominal denda yang lebih banyak. Baca juga Gunakan Teknologi Paten Tanpa Bayar Kompensasi, Qualcomm Tuduh Meizu Menjiplak dan Meizu Dituding Tak Bayar Royalti.

Top