Indonesia Masuk Sebagai Negara Dengan Pembajakan Terbesar

Malu! 84 Persen Penggunaan Software Di Indonesia Ternyata Bajakan – Berbicara masalah software, tentunya sudah menjadi barang umum jika disandingkan dengan perbincangan masalah pembajakan. Pasalnya, kegiatan non etik ini memang sudah lama dilakukan umat manusia turun temurun. Hal inilah yang menjadi dasar munculnya berbagai aturan hukum mengenai hak kekayaan intelektual.

indonesia masuk sebagai negara dengan pembajakan terbesar

Walaupun sudah menggunakan instrumen hukum yang bisa dikatakan tercanggih di masanya, ternyata bukan menjadi jaminan pembajakan software menjadi sirna begitu saja. Pasalnya, berdasarkan data yang dilansir dari Statista via Kompas (22/7/2016), ternyata didapati masih banyak negara yang kedapatan memiliki warga negara yang suka menggunakan software bajakan.

Salah satunya Indonesia. Menurut data yang mereka himpun, setidaknya 84 persen pengguna dari seluruh pengguna software di Indonesia adalah pembajak atau setidaknya menggunakan software hasil bajakan. Jika disederhanakan, bisa jadi dari 100 komputer yang ada, akan ditemukan 84 software bajakan di dalamnya. Tentu saja hal tersebut sangat mengejutkan berbagai pihak di tengah perkembangan teknologi saat ini.

Menariknya, jika melihat kehadiran hukum mengenai kekayaan intelektualmemang berasal dari barat, ternyata negara-negara barat pun tidak kemudian alpha dari software bajakan. Tersebut angka 17 persen menghiasi data pembajakan untuk daerah Amerika Serikat. Tentunya, hal ini lebih mengagetkan lagi lantaran negeri Paman Sam ini merupakan salah satu negara yang anti pembajakan.

Dilihat dari sisi lain, nilai kerugian hasil pembajakan di Indonesia ditaksir berada pada angka 1.1. Miliar USD. Angka ini tentu sangat besar dalam kurs Rupiah. Menariknya, walaupun jumlah pembajakannya lebih besar, namun kerugian yang dicapai masih lebih kecil ketimbang kerugian yang diderita di Amerika Serikat. Masih dari sumber yang sama, tersebut angka 9.1 Miliar USD menjadi angka pokok kerugian para pengembang software di sana.

Bagaimana perbedaan ini bisa terjadi tidak berbanding lurus? Selain maslaah kurs dan banderol harga yang diyakini berbeda, nampaknya jenis software yang dibajak menjadi hal yang membuat perbedaan tersebut. Katakanlah di Indonesia lebih banyak membajak operating system dengan harga 2 jutaan saja, sedangkan di negara lain lebih bayak membajak aplikasi pengolah gambar dengan harga 10 juta per paket. Baca juga Akses Internet akan Diputus, Jika Tetap Nekat Unduh Konten Bajakan dan Kemenkominfo Blokir 22 Situs Download Lagu Ilegal.

Top