Tanggapan Advan Mengenai TKDN

Advan Punya Jalur Sendiri Hadapi TKDN – Hebohnya masalah TKDN sebenarnya menjadi pelik ketika mendapatkan resistensi oleh pengusaha. Pasalnya, beberapa waktu yang lalu perwakilan asosiasi telepon pintar di Indonesia menyatakan aturan TKDN sulit diaplikasikan. Hal tersebut dinilai lantaran plihan perbandingan TKDN antara software dan hardware yang selaras dinilai tak begitu adil. Hal tersebut terjadi lantaran biaya investasi menurut asosiasi tersebut berbeda antara hardware dan software, sehingga seharusnya ada pertimbangan yang lebih khusus untuk tidak mempersamakan kedua poin tersebut.

tanggapan advan mengenai tkdn

Walaupun dibilang mewakili suara para pengusaha, namun nampaknya pernyataan asosiasi tersebut bertolak belakang dengan kondisi di lapangan. Pasalnya, beberapa perusahaan yang bisa dibilang belum merajai pasaran Indonesia malah telah sibuk membangun pabrik di Indonesia tanpa perlu banyak alasan. Sebut saja Coolpad yang sudah mendeklarasikan diri akan serius di pasaran gadget Indonesia.

Menariknya, Advan sebagai merek lokal bertahan di tanah air punya pemahaman sendiri. Pasalnya, dilansir dari Okezone (28/6/2016), aturan terbaru bisa membuat pilihan yang dramatisir yakni pilih TKDN 100 persen hardware atasu 100 persen TKDN software. Melalui, Tjandra Lianto, Marketing Director Advan, aturan tersebut ditanggapi dengan harapan ke depan.

Tjandra menyatakan bahwa ke depan Advan berencana mematuhi aturan pemeritah Indonesia dengan memilih TKDN 100 persen dari sisi Hardware ketimbang software. Hal tersebut nampaknya sangat bertolak belakang dengan apa yang dinyatakan asosiasi pemain telepon pintar di Indonesia yang menyatakan pembuatan Hardware di Indoensia harus ditempuh dengan biaya yang mahal ketimbang membuat software.

Walaupun demikian, Advan mengakui bahwa saat ini pihaknya baru memiliki kandungan TKDN 10 persen. Namun, pihaknya saat ini sedang berusaha untuk meningkatkan angka tersebut hingga 40 persen. Tjandra juga berharap agar regulasi tersebut nantinya akan beriringan dengan peningkatan kualitas komponen yang digunakan hasil dari produksi dalam negeri.

Menariknya, kabar ini untuk kesekian kalinya menampik secara tak langsung pernyataan asosiasi para pemain telepon pintar di Indonesia. Walaupun memang butuh waktu, nyatanya para pemain lebih menyukai membangun investasi hardware untuk diproduksi di Indonesia ketimbang urusan software. Entah apa alasannya, namun yang jelas kabar ini semakin memperkuat indikasi pengusaha yang serius di Indonesia. Baca juga Advan G1, Produk Lokal Berbaju Logam dan Advan dan MARS Lakukan Riset Smartphone Impian Masyarakat Indonesia.

Top