Berawal Dari Spanduk, Turun Jadi Banyak Isu

Masalah Indosat Ooredoo dan Telkomsel Melebar – Layaknya seperti dendam kesumat saja, sekali dipercik api semua hal menjadi-jadi. Hal ini nampaknya sedang terjadi di ranah industri telekomunikasi. Pasalnya, berawal dari singgungan Indosat Ooredoo ke Telkomsel, kali ini semua isu malah merujuk untuk menyudutkan posisi Telkomsel. Menariknya, isu awal mengenai spanduk malah tenggelam digantikan dengan isu-isu tidak sehat lainnya.

berawal dari spanduk turun jadi banyak isu

Sebelumnya Indosat Ooredoo melalui CEO-nya dengan gamblang menyatakan bahwa Telkomsel telah melakukan monopoli di bagian Indonesia luar Jawa. Pernyataan tersebut muncul sebagai dalih munculnya spanduk singgungan kepada Telkomsel yang mengatasnamakan Indosat Ooredoo. Menariknay belum selesai klaim tersebut dibuktikan kebenarnnya, isu malah beralih ke arah yang lebih pelik dengan pernyataan bahwa Telkomsel dengan sengaja menjegal Indosat Ooredoo dengan memborong perdana Indosat di luar Jawa. Tujuannya diberi stigma agar konsumen Indosat kehilangan akses padanya.

Parahnya, masih belum selesai isu tersebut diusut, kali ini seorang sumber menyebutkan bahwa Telkomsel dengan sengaja berniat menjegal dua regulasi terkait telekomunikasi sebagaimana dilansir dari Kompas (25/6/2016). Regulasi yang dimaksud adalah regulasi untuk penurunan tarif interkoneksi dan adanya network sharing.

Jika dilihat, apabila Telkomsel memang memiliki jaringan yang luas hingga kepelosok negeri, maka posisi Telkomsel di atas operator seluler lainnya memang menjadi lebih unggul. Biaya interkoneksi tentu akan dikenakan pada setiap operator seluler yang melakukan konseksi kepada Telkomsel. Padahal, jika memang tudingan penguasaan pasar Telkomsel di luar jawa mencapai 80 persen, itu artinya 80 persen dari koneksi antar provider seluler akan dinikmati oleh Telkomsel di luar Jawa.

Beda cerita lagi tentang network sharing. Sebagaimana diketahui, bahwa biaya pelebaran jaringan bukan hal yang sedikit. Network sharing sendiri merupakan suatu istilah yang kurang lebih memberikan pemahaman bahwa setidaknya antar provider seluler dapat menjalin kerjasama sehingga dapat menggunakan jaringannya satu sama lain. Tentu hal ini akan menguntungkan operator yang tak memiliki banyak jaringan layaknya Telkomsel.

Menanggapi hal tersebut, masih dilansir dari sumber yang sama. Telkomsel menyatakan bahwa posisinya saat ini bukan tanpa alasan. Pasalnya, perusahaannya telah jatuh bangun sejak tahun 1995 untuk membangun jaringan hingga ke pelosok negeri. Alhasil, nampaknya tidak fair jika dengan mudahnya ditumpangi begitu saja tanpa perimbangan yang layak. Baca juga Tembakan Indosat Ooredoo Melukai Dirinya Sendiri dan Indosat Tak Berani Bicara Sendiri, Operator Lain Ikut Diajak.

Top