Begini Aturan TKDN di India

Vendor Asing Dapat Manfaatkan Aturan TKDN India – Hebohnya aturan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) tidak hanya terjadi di Indonesia. Pasalnya, aturan ini memang bertujuan ikut menyegarkan perekonomian nasional di tengah ekstraksi keuangan dari untung yang didapati vendor telepon pintar atas penjualannya. Tak heran, galaknya aturan ini mungkin lebih kentara di negara berkembang ketimbang di negara maju yang merupakan sumber perusahaan-perusahaan asing multinasional.

begini aturan tkdn di india1

Kali ini pemberitaan aturan TKDN menyasar India. Sebagai negara berkembang, prestasi India biasa dibilang membanggakan. Pasalnya, pada tahun ini saja India diprediksi akan mencapai kenaikan angka 25 persen penjualan atas telepon genggam. Tentunya angka tersebut membuktikan riuhnya persaingan pasar telepon pintar di negara tersebut.

Untuk itu, agar masyarakat tak kehilangan dampak ekonomi positif, India menerapkan sistem TKDN sebesar 30 persen asli komponen lokal, sebagaimana dilansir melalui Kompas (22/6/2016). Tentunya, angka ini bukan angka yang sedikit bagi produsen ponsel asing untuk melakukan sharing keuntungan dengan konsep ini. Menariknya, India punya kebijakan menerapkan waktu tangguh selama tiga tahun untuk produsen asing yang memiliki toko sendiri dalam menerapkan aturan TKDN tersebut.

Artinya, selama 3 tahun, pemain asing dapat bebas mengimpor produknya, asalkan dijual melalui tokonya sendiri. Hal ini cenderung terlihat lebih ekonomis bagi vendor. Pasalnya, ketimbang membuat pabrik, pendirian TOko sendiri lebih menguatkan dalam sisi branding terhadap konsumen. Sedangkan bagi sisi pemerintah sendiri tetap akan mendapatkan keuntungan karena pendirian toko oleh asing akan menghidupi perekonomian dalam segmen tersendiri walaupu tak sebesar pendirian pabrik.

Selain dispesnsasi selama 3 tahun tersebut, India juga masih punya kebijakan lain masalah TKDN. Pasalnya, berdasarkan aturan terbaru saat ini, setiap produk yang berteknologi canggih dapat mengajukan dispensasi lebih lama dari angka 3 tahun tersebut. Tentu hal ini menjadi celah yang harus dimanfaatkan oleh berbagai vendor telepon pintar.

Sayangnya, beberapa pihak di India tidak sepakat dengan konsep telepon pintar yang dianggap berteknologi canggih. Terlebih dengan banyaknya persaingan telepon pintar di dunia, nampaknya perlu ada sebuah ciri khusus teknologi yang dianggap canggih ketimbang penilaian dari sisi merek. Baca juga Xiaomi Mi Max Meluncur 30 Juni di India dengan Harga Mulai Rp3 Jutaan dan LG Kenalkan Dua Smartphone Kelas Menengah Racikan Pabrik India.

Top