Ponsel Black Market Rugikan Pemerintah Triliunan Rupiah

Ponsel Black Market Rugikan Pemerintah Hingga Rp 4 Triliun – Fenomena ponsel ilegal atau Black Maret memang dari dulu hingga saat ini masih tetap menjamur di Indonesia. Belum diketahui data secara pasti, namun kerugian yang diakibatkan oleh beredarnya ponsel ilegal ini sangatlah besar. Pasalnya, untuk memasukkan ponsel-ponsel dari luar ke Indonesia bukanlah perkara yang mudah. Selain harus memiliki sertifikat, perusahaan juga seharusnya membayar bea cukai untuk setiap perangkat yang diimpor.

ponsel-black-market-rugikan-pemerintah-hingga-rp-4-triliun

Ponsel ilegal atau yang istilahnya Black Market (BM) ini memang cukup menggiurkan. Karena harga yang ditawarkan sangat menarik, bahkan bisa mencapai kurang dari sepruh harga yang semestinya. Namun, harga murah tersebut tidak menjamin kualitas dan after sales service nya.

Untuk kasus ponsel ilegal yang masuk ke Indonesia saat ini, Heru Sutadi selaku pengamat telekomunikasi tidak mneyebutkan berapa kira-kira kerugian yang dialami pemerintah. Namum, apabila mengingat pada saat BlackBerry menjadi primadona di pasar ponsel Indonesia beberapa tahun yang lalu, Heru menyebutkan bahwa potensi kerugian yang dialami mencapai sekitar Rp3-4 triliunan.

Dari kutipan yang dilansir melalui halaman Okezone, Jumat (01/04/2016) Heru mengatakan, “Waktu BlackBerry lagi booming, pernah sampai Rp3-4 triliun,” ungkapnya. Kemudian pihaknya menambahkan bahwa ke depan, untuk meminimalisir peredaran ponsel Black Market, nomor IMEI perlu tercatat di dalam database.

Selain itu, juga perlu adanya himbauan terhadap pembeli, agar berhati-hati dalam membeli ponsel Black Market. Biasanya, ponsel BM menawarkan garansi internasional. Dengan iming-iming tersebut, jika pembeli tidak jeli, maka akan tertipu. Seharusnya lebih memahami dahulu apa itu garansi internasional agar dikemudian hari tak merasa dirugikan saat ingin melakukan servis perangkat tersebut di Indonesia.

Hal ini karena memang untuk ponsel-ponsel BM belum tentu bisa dilakukan servis di Indonesia, apalagi untuk beberapa produk kemungkinan masih tidak ada service centernya di Indoneisa, untuk itu akan snagat merepotkan apabila untuk service ponsel saja harus ke luar negeri.

Hingga kini memang masih belum ada rencana lanjutan yang dikonfirmasi dari pemerintah untuk menanggulangi hal ini. Karena gaya hidup seringkali memaksa seseorang untuk mengambil jalan pintas, misalnya memebeli ponsel murah asal keren tetapi tanpa memikirkan resikonya. Baca juga OnePlus X Akhirnya Datang Juga dan Setelah Diakuisisi Lenovo, Motorola Tinggal Menunggu TKDN untuk Jualan Ponsel di Indonesia

Top