BB Mulai Realistis

BB-Priv Turun Harga, Sekaratkah? – Berita kurang menyenangkan selalu berhembus dari Blackberry beberapa bulan ini. Sebagai vendor ponsel pintar yang pernah merajai dunia, alangkah panjangnya napas Blackberry untuk menghadapi pasar gadget yang semakin hari semakin kejam. Betapa tidak, tiap hari ada saja informasi yang disajikan mengenai posisi keuangan Blackberry yang semakin hari semakin mengenaskan.

bb-mulai-realistis

Ponsel pintar yang menggunakan nama buah ini, mungkin setiap hari ahrus senam jantung melihat laporan keuangan mereka. Betapa tidak, senjata pamungkas mereka, Blackberry Priv, yang diharapkan mampu menjadi penyelamat perusahaan asal Kanada ini nyatanya memberikan performa di luar ekspektasi, alias tidak begitu bagus. Terbukti, berdasarkan data dari Kompas (6/4/2016), penjualan Blackberry turun teratur pada angka 600 ribu unit di kuartal fiskal keempat. Padahal sebelumnya penjualan produk vendor Berry Hitam ini mampu mencapai 700 ribu unit.

Walaupun telah merelakan keegoisannya dengan melepaskan BBOS pada produk Blackberry Priv-nya ini, naytanya tidak menyelamatkan angka penjualan mereka. Asumsinya, dengan menggunakan OS Android, pasar Android dapat dikuasai oleh produk mereka kembali. Nyatanya asumsi hanya tinggal asumsi, keadaan Blackberry tidak mendapat feedback yang signifikan. Alasannya? Beberapa laman berasumsi harga BB-Priv terlalu mahal untuk dibanderol pasaran Andorid gila-gilaan. Tentunya memang secara logis, BB memiliki perhitungan ongkos produksi sendiri yang nyatanya memang tidak mampu bersaing dengan produk sejenis dikelasnya.

Entah karena kehabisan amunisi, menurut Kompas (7/4/2016), BB Priv dikatakan turun harga. Sebelumnya, menyasar kelas premium, Blackberry berasumsi mampu memaksa konsumen membeli perangkatnya apda harga USD 889 (sekitar 11 juta rupiah). Nyatanya, sekarang harga tersebut hanya tinggal catatan, karena banderol terakhir terjun bebas ke angka USD649 atau sekitar 8.5 juta rupiah. Tentunya penurunan harga ini dirasa tidak logis, apalagi sebelumnya BB malah sempat mempromosikan BB-Priv akan emnggunakan OS Android terbaru Marshmallow yang tentunya berdampak pada ongkos produksi.

Apakah Blackberry mulai realistis melihat harga produknya yang sulit bersaing? Jelasnya, menurut pengamatan Begawei di pasar, ada kalanya pedagang yang mau bangkrut akan banting harga produknya. Tujuannya sederhana, menutup angka investasi atau bahasa kerennya balik modal, atau setidak-tidaknya meminimalisir kerugian. Tentunya Begawei juga tidak tahu apakah trik seperti ini digunakan di belantara gadget yang mengerikan ini. Suatu hal yang pasti, seluruh pecinta vendor Berry Hitam ini pasti berharap yang terbaik untuk masa depannya. Rasanya menarik untuk terus memantau informasi seputar Blackberry ini, tunggu saja ya. Baca juga Meizu M3 Note Resmi Rilis di Beijing dan Huawei P9 Plus, Smartphone Pertama yang Mengusung Kamera Leica.

Top