BB Jaga Harga Diri, Nembak Kelas Premium

Nasib Blackberry Di Ujung Tanduk – Mirip-mirip dengan vendor asal Finlandia, Nokia, vendor asal Kanada, Blackberry, sama-sama mengkhawatirkan. Bedanya, Nokia memang dirasa terlambat untuk meng-update teknologi karena berusaha mempertahankan pasarnya sendiri. Sedangkan ponsel dengan nama buah ini, ingin mempertahankan nilai eksklusif dari produknya. Hal ini tentunya didukung fakta, terlambatnya aplikasi Blackberry Mesengger muncul di Android OS dan iOS. Baru setelah dinyatakan kalah di pasaran, akhirnya menyerah juga melepas aplikasi eksklusif kebanggaannya tersebut.

bb-jaga-harga-diri-nembak-kelas-premium

Antara tidak belajar dari kesalahan atau memiliki strategi bisnis yang sulit dimengerti oleh orang awam, Blackberry masih saja ngotot memproduksi ponsel pintar dengan sasaran kelas premium yang eksklusif. Padahal menurut data yang dilansir dari Okezone (4/4/2016), penjualan BlackBerry yang awalnya berada pada angka 600 jutaan Dolar Amerika Serikat (sekitar 7.8 triliun Rupiah) dikabarkan merosot hampir sebesar 200 juta dolar Amerika Serikat ke posisi 464 juta Dolar Amerika Serikat atau setara dengan sekitar 6 trilliun Rupiah. Penurunan inipun bagai menukik tajam karena hanya terjadi dalam tempo tiga bulan terhitung akhir Februari 2016.

Chief Executive Officer BlackBerry, John S Chen menyalahkan keterlambatan dalam negosiasi dengan penyedia jaringan seluler menjadi penyebab jatuhnya angka penjualan perusahaan ini. Padahal, sebagaimana diketahui BB telah berusahan menembak pasar dengan BB Priv yang berbasis Android. Menurut Chen, Blackberry memang mengakui persaingan pasar yang sengit. Namun tidak mengakui kekalahannya pada sisi produk, melainkan pada masalah distribusi demikian dilansir dari BBC, Minggu (3/4/2016).

Lebih lanjut, CEO Blackberry tersebut mengaku akan melakukan pemotongan biaya. Karena secara perhitungan, dari taget 5 juta perangkat yang terjual hanya laku 3 juta saja di pasaran. Artinya hanya diminati pembeli setengah lebih sedikit dari total stock aktif yang ditawarkan. Tentunya hal tersebut akan sangat memengaruhi perhitungan laba bahkan ‘tutup modal’ produksi Blackberry.

Padahal disamping berita tersebut, Blackberry dikabarkan akan merilis produk baru BB Hamburg dan BB Roma yang menyasar segmen premium dan menengah ke atas. Apakah dengan kondisi Blackberry yang demikian akan mampu untuk menembak pasar kembali dengan handset barunya? Atau malah produk tersebut akan menjadi kenang-kenangan dari Balckberry pada pecinta setianya? Atau Blackberry akan mengikuti langkah Nokia dengan melakukan penyerahan diri pada perusahaan teknologi raksasa lainnya? Kita tunggu saja kabar selanjutnya dari berry hitam ini. Baca juga Microsoft Umumkan Pengguna Office Capai 1,2 Miliar Pengguna dan Apple Siri Merespon Kata Perkosaan.

Top