Awas! Infinix Palsu

Infinix Palsu beredar di Pasaran – Brondongan handphone luar negeri sepertinya tak henti-hentinya menggempur pasar gadget di Indonesia. Tak ketinggalan, produsen asal Hongkong, Infinix-pun melihat potensi market yang tinggi di pasaran gadget Indonesia. Sehingga tak mengherankan apabila produknya dipromosikan besar-besaran di tanah air ini dengan harapan meraup keuntungan yang tak sedikit.

awas infinix palsu

Tentunya, gencarnya promosi Infinix mengakibatkan produknya laris manis di pasaran. Bukan hal yang aneh memang, karena prinsipnya semakin dikenal suatu produk semakin banyak permintaan atas produk tersebut. Sayangnya, beberapa orang tak bertanggung jawab akan mulai melihat celah dari kepopuleran tersebut untuk meraup keuntungan pribadinya.

Dikabarkan oleh Okezone (28/4/2016), Infinix menyatakan bahwa produk-nya telah dipalsukan. Pemalsuan ini bukan hanya dari segi produksi. Pasalnya, sudah banyak produk yang beredar dengan mengusung nama Infinix. Padahal produk yang besangkutan tidak ada hubungannya dengan Infinix asal Hongkong tersebut.

Dilansir dari laman yang sama,  Marcia Sun, Country Manager Infinix Indonesia mengatakan, memang tindakan ini dapat mengecohkan konsumen yang memang benar-benar ingin mencari brand Infinix. Tentunya tindakan tersbeut menjadi hal yang disayangkan oleh Infinix karena berusaha memanfaatkan popularitas brand Infinix di Indonesia. Ditambahkan lagi oleh pihak bersangkutan, bahwa Infinix menghimbau amsyarakat Indonesia untuk lebih berhati-hati agar tidak tertipu dengan Infinix abal-abal.

Sebagai informasi, di Indonesia perusahaan tersebut telah meluncurkan smartphone seri HOT untuk pemula, Note untuk kelas menengah, dan Zero yang termasuk dalam seri smartphone flagship. Beragam varian yang ditawarkan hingga saat ini mencakup Infinix HOT NOTE X551, Zero 2 X509, NOTE 2, ZERO 3 X552, dan HOT 3 X552 dan HOT 3 X553. Sehingga apabila terdapat varian di luar daftar tersebut bisa dikatakan bukan merupakan produk Infinix.

Kejadian ini tentu menjadi pukulan telak para pembuat ponsel pintar di Indonesia. Pasalnya, asumsi kejahatan pemalsuan produk awalnya hanya menyasar produk-produk premium macam Samsung dengan banderol mahal. Karena yang palsu lebih murah biasanya akan menjadi alasan pembenar bagi konsumen untuk memilih yang bajakan.

Namun apabila kasus ini benar, nampaknya modus kejahatan pembajakan produk sudah mulai bergeser. Bisa dibilang dengan menawarkan varian yang lebih ‘baru’ daripada varian asli yang ditawarkan perusahaan terkait dengan merek yang sama. Tentunya produk bajakan selain melanggar hukum juga tidak jelas siapa yang bertanggung jawab untuk urusan purna jualnya. Baca juga Huawei P9 Bukan Berasal Dari Tangan Leica dan Xiaomi Tidak Lagi Produksi Ponsel dengan MicroSD.

Top