Awas! Bahaya Privacy Mengintai Oculus Rift

Oculus Rift Dipertanyakan – Sebenarnya isu mengenai privasi adalah hal yangat penting di seluruh dunia. Hanya saja, prioritas kepentingannya tidak sama. Salah satu negara yang mengutamakan privasi adalah Minnesota. Hal ini diamini dengan tindakan Senator Minnesota, Al Franken, dengan mengirim surat terbuka untuk CEO Oculus, Brendan Iribe. Pasalnya, Oculus Rift secara terang-terangan mendeklarasikan diri akan mengkoleksi data personal penggunanya.

awas-bahaya-privacy-mengintai-oculus-rift

Sebagaimana dilansir dari Okezone (12/44/2016), data sensitif yang dikoleksi oleh Oculus berupa data lokasi sensitif dan data pribadi. Data tersebut dikoleksi seiring penggunaan oculus rift, baik disadari maupun tidak. Payahnya, data tersebut diperjanjikan secara baku untuk dapat disebarluaskan pada pihak ketiga. Hal tersebut yang menjadikan landasan pertanyaan Al Franken. Sebagai seorang Senator, memang sudah menjadi tugasnya untuk menanggapi isu-isu yang terjadi di masyarakat.

Pasalnya, dengan data yang dikoleksi tersebut, secara tidak langsung akan mengganggu privasi penggunanya. Apabila digambarkan dengan kacamata penduduk Indonesia, ‘pelanggaran’ privasi dapat dirasakan setiap kali kita mendapatkan sms atau telepon marketing yang sama sekali kita tidak pernah memberikan informasi kepada pihak-pihak tersebut. Hal tersebut saja sudah sangat mengganggu kehidupan keseharian kita. Dalam tataran yang parah, bocornya privasi atas data personal dapat digunakan untuk tindakan kejahatan mulai dari penculikan hingga human trafficking.

Untuk itu, disetiap negara maju koleksi atas data personal diawasi dengan ketat dan secara default tidak diperkenankan untuk dibagikan pada pihak ketiga. Karena nantinya apabila terjadi pelanggaran atas privasi, jelas siapa yang akan dicari untuk dimintai pertanggungjawaban. Untuk masalah Oculus Rift, logikanya sebagai perangkat virtual VR tidak ada korelasi yang jelas kenapa harus dilakukan koleksi data penggunanya. Apabila urusannya dengan alat komunikasi mungkin jelas, karena memang komunikasi perlu identitas untuk pertanggungjawaban. Sedangkan perangkat VR sejatinya hanya titujukan untuk menyajikan pengalaman di dunia virtual.

Melihat sekilas, masalah privasi ini sebenarnya timbul tenggelam untuk dibahas. Contoh, default setting Windows 10 membuat penggunanya wajib membocorkan data rahasianya. Hal ini sempat menimbulkan ketakutan yang beralasan dari berbagai pihak. Bahkan bisa dibilang penolakan terhadap kewajiban ini. Padahal, vendor-vendor lain sbeelumnya juga telah melakukan hal yang sama. Saat ini Google dengan Android OS-nya juga mewajibkan sharing data personal tersebut dengan tanda petik anonymous data yang katanya akan difungsikan sebagai bahan pengembangan OS Android ke depannya. Bukan bermaksud paranoid, yang jelas untuk tataran Indonesia sendiri juga pernah ada kasus Transportasi Online yang meresahkan pengguna akibat tidak ada perlindungan privasi nomor telepon penggunanya. Baca juga Kominfo Luncurkan Aplikasi Khusus Petani dan Fitur Facebook di Whatsapp.

Top