Kolaborasi Canting dan Teknologi Ciptakan Keajaiban!

Batik Fractal, Kombinasi Teknologi Komputer, Sains dan Seni – Memperingati hari batik Internasional yang berlangsung pada hari Jumat kemarin tanggal 2 Oktober 2015 ternyata bukan saja hanya sekedar peringatan dengan mayoritas masyarakat Indonesia yang mengenakan baju batik pada hari itu. Hal tersebut justeru menjadi tantangan baru bagi para pengerajin batik untuk menciptakan sesuatu yang ajaib dari canting yang menjadi sumber  karya tersebut.

batik-fractal-kombinasi-teknologi-komputer-sains-dan-seni

Kali ini, ilmu Sains dan Teknologi pun ternyata turut serta dalam proses pengembangan batik yang merupakan karya khas dari tanah air. Pada era yang semakin modern tersebutlah membuat Nancy Margried, Muhamad Lukman, dan Yun Hariadi tertantang untuk menciptakan inovasi baru yaitu batik fractal, yang merupakan batik dengan motif menggunakan rumus matematika fractal.

Menurut kutipan yang diambil dari halaman detikINET, Sabtu  (03/10/2015),”Batik fractal sendiri diciptakan tidak sengaja oleh saya dan kedua rekan saya pada tahun 2007. Bermula dari riset kami mengenai corak batik tradisional dan matematika fractal, kami menemukan bahwa algoritma matematika bisa menghasilkan corak batik,” ujar CEO Piksel Indonesia, Nancy Margried.

Kemudian hasil temuan ketiga orang tersebut diwujudkan dalam sebuah software yang diberi nama dengan jBatik, yang berada di bawah naungan pIxel People Project yang sekarang menjadi Piksel Indonesia. Software ini merupakan aplikasi desktop untuk mendesain berbagai macam corak batik yang menggunakan prinsip fractal.

Kelahiran software ini mendapatkan sambutan yang sangat baik, terlihat dari berbagai penghargaan yang diterima baik di dalam maupun di luar negeri. Batik bercorak matematika fractal ini dinilai sangat unik, karena pembuatan kain tradisional dengan menggunakan media teknologi modern memang belum pernah ada dimanapun sebelumnya. Hal ini juga menjadi sebuah pembaharuan dan pelestarian budaya yang menyetarakan dengan adanya kemajuan teknologi.

Namun, meskipun memanfaatkan sebuah software batik fractal tersebut tidak pernah menghilangkan proses pengerjaan dengan cara tradisional, hal ini untuk tetap menjaga keaslian batik dengan sentuhan tangan-tangan kreatif pengerajin batik. Karena proses kerja tersebut, setelah dilakukan penjiplakan corak di atas kain maka setelah itu dilakukan proses membatik seperti biasa dengan menggunakan canting dan malam. Baca juga ECCT Ciptaan Warsito Ternyata Benar-benar Mampu Membunuh Sel Kanker dan Printer 3D Memungkinkan Bangun Rumah Murah

Top