Fujifilm, dari Kamera ke Obat Ebola

Fujifilm Produksi Obat Untuk Virus Ebola – Perusahaan teknologi asal Jepang yang dikenal sebagai penghasil kamera seluloid berkualitas, Fujifilm, memindahkan haluan bisnisnya. Tak lagi bergerak di bidang kamera konvensional, Fujifilm kini pindah haluan ke bidang farmasi, tepatnya sebagai produsen obat untuk virus Ebola.

fujifilm-produksi-obat-untuk-virus-ebola

Pekan lalu, terlihat pimpinan perusahaan Fujifilm, Shigetaka Komori, mengenakan jas laboratorium putih sambil memegang tabung di tangannya. Komori pun berpose bak ilmuwan, bukan lagi pemimpin perusahaan teknologi.

Selain memindahkan arah bisnis ke produksi obat virus Ebola, Fujifilm juga memproduksi beberapa produk farmasi lainnya, seperti lotion anti penuaan serta bergerak di bidang penelitian sel punca. Fakta ini menunjukkan bahwa Komori telah memindahkan unit bisnis Fujifilm dari teknologi ke bidang farmasi.

Kepindahan Fujifilm dari dunia teknologi ke farmasi memang tak terelakkan lagi. Seiring ditemukannya kamera digital serta semakin berkembangnya perangkat ponsel pintar membuat kamera film semakin ditinggalkan. Hal ini membuat bisnis yang dijalankan oleh Fujifilm mengalami penurunan secara drastis. Bahkan, perusahaan serupa Fujifilm, Kodak, sudah terlebih dahulu gulung tikar akibat kalah bersaing.

Meski produk-produknya mulai ditinggalkan, Fujifilm berhasil mencatatkan laba perusahaan sebesar USD950 atau sekitar Rp 13 triliun pada tahun 2015 ini. Peningkatan pendapatan Fujifilm itu jelas bukan dari penjualan produk-produk fotografinya. Tidak seperti Kodak, Fujifilm tak tinggal diam ketika pengguna kamera analog, seiring meningkatnya popularitas kamera digital, menurun drastis. Selama satu dekade terakhir ini, bergelut di area lain, yaitu pengobatan Ebola, lotion anti penuaan, dan juga penelitian akan sel punca.

“Saya tidak mengatakan bahwa kami telah mencapai kemenangan. Sulit untuk perusahaan manapun untuk mengatakan hal tersebut, mengingat bahwa keadaan selalu berubah-ubah.” ujar Komori.

Selanjutnya, Fujifilm berencana untuk berinvestasi sebesar 400 miliar yen atau sekitar Rp 44 triliun guna mengakuisisi dan menambah jajaran produk farmasi lainnya. Selain itu, Fujifilm juga akan melakukan penelitian di dunia kesehatan pada tahun 2017 mendatang. Sektor lain yang mulai dilirik Fujifilm adalah produksi saringan untuk memurnikan gas alam serta penelitian sel punca yang dapat meregenerasikan jaringan-jaringan tubuh manusia. Baca juga Seagate Wireless : Hard Disk Ringkas, Stylish dan Mumpuni dan Si Cantik Dibalik Kemunculan UPQ di Dunia Teknologi.

Top