Ribet, Tukang Ojek Pangkalan Masih Ogah Gabung di Go-Jek

Layanan Jasa Transportasi Ojek Digital – Jaman sudah sangat modern. Naik Ojek pun, kini jadi begitu mudah, karena ada aplikasi khusus yang akan membantu anda. Sebuah perusahaan rintisan (startup) bernama Go-Jek, merilis aplikasi mobile yang dapat digunakan untuk memesan ojek tanpa harus susah payah mencari pangkalan di sudut jalan. Aplikasi untuk ponsel berbasis iOS dan Android ini, bahkan bisa di-download secara gratis melalui AppStore dan Google Play Store. Kehadiran Go-Jek tak hanya mempermudah para pengguna ojek, untuk menemukan jenis transportasi itu. Namun pihak perusahaan juga mencoba memberikan penghasilan yang lebih layak untuk para tukang ojeknya. Bahkan, Go-Jek pun berencana untuk mengajak para tukang ojek pangkalan untuk bergabung dan menikmati berbagai keuntungan ketika menjadi pengendara Go-Jek. Meskipun begitu, ternyata para tukang ojek pangkalan, masih ogah bergabung di Go-Jek. Apa alasannya?

Tukang Ojek Pangkalan Masih Ogah Gabung di Go Jek

Ribet adalah alasan utama mereka, untuk belum mau bergabung bersama perusahaan tersebut. Hal itu diutarakan salah satunya oleh beberapa tukang ojek di bilangan Sudirman dan Bendungan Hilir. Penggunaan teknologi tinggi, mereka anggap sebagai sesuatu yang justru membuat mereka keteteran. Dengan hadirnya aplikasi Go-Jek sebagai layanan transportasi secara digital, memang mengharuskan para tukang ojek untuk bersentuhan dengan teknologi, yang bagi mereka rata-rata adalah hal baru yang susah.

“Repot, saya nggak bisa pakai smartphone. Mending mangkal aja. Apalagi kalo soal duit, nanti kan harus dibagi dua sama Go-Jeknya. Kalo mangkal hasilnya kan ketauan.” Ujar seorang tukang ojek, yang tak mau disebutkan namanya.

Go-Jek memang menerapkan sistem pembagian hasil untuk setiap transaksi tunai dengan layanannya. Sebanyak 20 persen untuk perusahaan, lalu 80 persen untuk karyawan itu sendiri. Selain itu, terdapat juga bentuk pembayaran lainnya menggunakan Go-Jek Credit. Pelanggan pun bisa melakukan top-up dengan pulsa untuk transaksi. Dari deposit tersebut, bagian pendapatan untuk tukang ojek hanya bisa diambil jika datang langsung ke kantor Go-Jek. Menurut para tukang ojek, hal itu justru menyusahkan mereka. Mereka tak bisa langsung menikmati hasil jerih payahnya.

“Kalau mangkal kan ketauan, habis nganter dapet duit. Kalau pakai sistem kredit kan nggak keliatan uangnya. Saya lebih enak dapet duit langsung. Apalagi kalo di Go-Jek nanti dapet HP harus cicil. Saya males.” Ungkap tukang ojek yang lain.

Namun di sisi lain, kesempatan bergabung dengan Go-Jek, dirasakan begitu menguntungkan.  Salah satu armada ojek Go-Jek, Heru B Jukman menjelaskan, pendapatannya per bulan rata-rata bisa mencapai angka Rp 4 juta. Bahkan, jam kerjanya pun fleksibel dan ia mengatakan lebih banyak waktu bersama keluarga. Baca juga Ini Dia Aplikasi Streaming Musik Ala Line dan Apple Pay Juga Akan Hadir di Inggris Mulai Juli 2015.

 

Top