“Trend” Pemblokiran Situs yang Dinilai Radikal

Pemblokiran Situs Radikal Tak Hanya di Indonesia – Atas merebaknya paham radikal, yang mulai menyusup ke Indonesia, pemerintah pun ambil tindakan. Tak kurang dari 22 situs diblokir oleh Kemkominfo, atas permintaan dari Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT).

trend pemblokiran situs radikal

Dalam surat edaran yang disebarkan, tidak dijelaskan alasan situs-situs tersebut diblokir. “Sesuai yang disampaikan pihak BNPT bahwa situs atau website tersebut merupakan situs atau website penggerak paham radikalisme dan atau sebagai simpatisan radikalisme,” tulis Kemkominfo mengenai alasannya.

Puluhan situs tersebut, masuk list situs yang terkait dengan paham radikal. Mereka diantaranya adalah arrahman.com, voa-islam.com, an-najah.net, kiblat.net, dan kafilahmujahid.com. Namun, baru semalam diblokir, hari ini situs-situs tersebut bisa kembali diakses.

Namun ternyata, pemblokiran situs-situs terkait paham radikal, tak terjadi di Indonesia saja. Beberapa hari lalu, Perancis pun melakukan hal yang sama. Negara tersebut memang sedang gencar memerangi terorisme. Dianggap membahayakan, sejumlah situs pun diblokir. Hal tersebut tak lepas juga dari peristiwa penembakan di kantor majalah satir Charlie Hebdo.

Senada dengan Indonesia dan Perancis, India pun ikut “bersuara”. Bahkan, lebih besar daripada di Indonesia, belum lama ini india memblokir 32 situ. Situs-sitis tersebut dianggap radikal, sehingga sangat mungkin digunakan untuk menyebarkan ajaran ISIS. Salah satu yang diblokir adalah Github. Tak hanya di India,  situs yang dianggap berperan penting untuk industri teknologi ini sebelumnya telah diblokir di Rusia dan China. Negara yang terkenal dengan industri filmnya itu, juga memblokir Vimeo.  Pemerintah setempat menganggap, situs berbagi video itu memuat konten pro ISIS. Namun kemudian, blokir terhadap Vimeo pun  dicabut setelah memastikan akan menghapus konten pro ISIS.

Turki juga menjadi negara yang melakukan blokir terhadap situs-situs radikal. Pengadilan setempat juga meminta pemerintah untuk melakukan blokir terhadap situs-situs asosiasi ateis dan organisasi separatis Kurdi. Situs Takva Haber yang dinilai sebagai alat propaganda agar warga bergabung ke ISIS juga telah diblokir.

Walaupun banyak negara telah menerapkan pemblokiran terhadap situs-situs radikal, namun penolakan pun tetap terjadi. Berbagai aktivis menilai, bahwa pemblokiran tersebut membungkam kebebasan berbicara. Baca juga 88 Juta Masyarakat Indonesia Sudah Akses Internet dan Qdone Membuat Antri Lebih Nyaman.

 

Top